9 Desember 2012

Semua Dari Yang Kecil

oleh: Muhammad Syahrul Fakhri - 9/12/2012


Janganlah berkecil hati dengan pendapatan kecil, 
asal Anda ikhlas dan jujur bekerja untuk menumbuhkannya. 

Sebagian besar orang yang menjadi kaya 
dan bernilai bagi masyarakat, 
dulunya ikhlas hidup sederhana dengan pendapatan kecil 
untuk masa yang cukup lama. 

Dan, tiba-tiba saja kekayaan yang penuh berkah itu 
diturunkan oleh Tuhan. 


Semoga hal yang sama dijadikan oleh Tuhan
untuk setiap jiwa yang membaca kalimat ini.

Aamiin

Mario Teguh – Loving you all as always



Membaca kata-kata emas Bapak Mario Teguh tiba-tiba tangan saya ingin mengetik cepat, rasanya ingin membuka blog yang hampir punah karena tidak pernah tercolak-colek lagi bagai sampah, sekarang rasa ingin menulis itu sedang kembali tegang dan berseteru, sampai-sampai saya deg-degan ingin menulisnya. Ribuan kalimat sudah melayang-layang bagai terbangnya burung ke hujung matahari yang akan tenggelam ke dalam lautan. Serius!!! saya deg-degan, ini sebuah Inspirasi yang tiba-tiba datang, Deg-degan, karena jika saja saya menunda untuk menulisnya bisa-bisa inspirasi yang  begitu hebat ini akan hilang ditelan bumi dan langit dan lenyapbegitu saja. 

sudah, sudah..., tidak usah diperpanjang itu aib. hihi.

Pak Mario memang selalu Inspiratif jika menulis atau meng-update statusnya. Terkadang saya iri dengan beliau, kenapa? lihat saja, baru saja meng-update status beberapa detik yang lalu sudah ribuan yang like dan ratusan yang komentar. Saya ingiiiiiiiin sekali seperti beliau Hahaha... bullshit, pertemanan saja cuma ada 500 lebih. Jika dibandingkan dengan Pak Mario bagai langit dengan bumi. lebay lagi deh. (-_-!)

Tapi kalimat beliau diatas atau yang satu ini, tiba-tiba mengajak saya untuk masuk kedalam mesin waktu, dan mengingat kembali sebuah pertemuan yang tidak disengaja pada masa lalu. Sebuah pertemuan dengan seorang yang "lumayan" istimewa bagi saya. Lumayan, karena saya tidak mengenal namanya. mungkin itu bisa menjadi pertemuan yang luar biasa jika saja saya tahu nama orang yang akan saya ceritakan nanti.

Langsung saja, begini ceritanya...  

Suatu hari, ketika saya cuti atau liburan ke tanah air bersama istri saya dari Mesir. Saya pulang ke Indonesia tanpa di dampingi sang istri, karena kebetulan istri dalam keadaan tidak memungkinkan untuk naik pesawat beberapa kali didalam kandungannya yang sudah memasuki usia lima bulan. Seminggu usai di tanah air Indonesia, akhirnya saya melanjutkan kembali perjalanan ke Malaysia untuk berjumpa orangtua atau keluarga dari istri saya yang akhirnya akan dilanjutkan kembali ke Mesir.




Ketika saya sedang boarding pass menunggu pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya duduk ditempat yang agak sepi tepatnya di ujung dekat jendela besar yang diluarnya terdapat pesawat besar. Saat itu belum banyak penumpang yang mengisi kursi-kursi diruang menunggu. Agak bosan, karena pastinya menunggu untuk masuk pesawat butuh waktu 1 jam bahkan lebih. Akirnya saya ambil sebuah buku bacaan 'Notes from Qatar jilid 2' didalam tas saya yang sudah saya siapkan ketika akan berpergian. Beberapa lembar sudah saya baca, sesekali saya melirik-lirik seluruh penumpang yang semakin meramaikan kursi-kursi menunggu. Seorang Bapak yang usianya sekitar diatas 50-an beserta istrinya berjalan menghampiri saya dengan menggenggam koper kecilnya lalu duduk disamping saya. Bapak itu tersenyum, saya pun menjawab senyumnya. beberapa detik kami saling diam diri. karena memang kami tidak saling mengenal, tetapi kebiasaan saya, jika saya sudah berlama-lama duduk dengan orang, saya akan mengawali pembicaraan dengannya, atau terkadang orang itu yang justru mengawali pembicaraan. Dan akhirnya kami saling berbicara.

Kali ini Bapak tua itu yang mengawali pembicaraan, beliau menyapa saya dengan sapaan yang paling ringan.

"sedang membaca buku apa de?" sapanya.

"Notes From Qatar." jawab saya sambil menunjukkan sampulnya.

"buku apa itu?" buku... (saya sedikit bingung menjawab jenis genrenya) pengalaman yang menginspirasi. jawab saya.

"mau ke Kuala Lumpur?"

"iyah."

"kuliyah disana?" tuturnya.

"hmmm... gak, mau silaturahim dengan keluarga." saya sedikit segan menjawab pertanyaannya, mungkin beliau mengira saya belajar di Malaysia, karena pakaian sederhana setara anak muda lainnya yang saya pakai (t-shirt, sweater, celana sederhana, sambil membawa tas dan memegang buku). Bapak itu tidak tahu kalau saya sudah menikah. Hihi...

"kuliyah atau kerja?" tanya-nya lanjut.

"saya Kuliyah."

"dimana?"

"di Mesir." walaupun agak berat menjawabnya.

"oh, di Al-azhar?"

"iya pak..." sambil tersenyum kaku.

"saya juga dulu pernah ke Mesir, Ke Iraq, ke negara-negara Timur Tengah lainnya." jelasnya menetralisir pembicaraan.

"wah... yang benar pak? dalam rangka apa?" tanya saya yang suka ingin tahu kehidupan oranglain. Hehehe.

"bisnis. Kerjasama Departemen Perdagangan dengan negara-negara lain." singkat tapi sedikit membuka pikiran saya.

"wah, hebat. Bisnis apa pak?"

"bisnis pengadaan atau import pupuk." saya semakin dibuka pikiran olehnya. Bisa ya begitu? dalam hati saya bertanya.

"tetapi sayang, saya ditipu sama orang-orang arab." 
"lah, kok bisa?"

"tidak tahu, saya tidak habis fikir, padahal kami sudah membuat janji. Tetapi orang-orang arab itu tidak menepatinya. Aneh ya? padahal mereka beragama." ucapannya membuat saya tersenyum.

"orang arab memang begitu pak, gak pernah beres kalo urusan sama mereka." jawab saya agak kesal, maklum sudah berpengalaman dalam urus-urusan dengan orang-orang arab.

"akhirnya saya gak mau-mau lagi bisnis dengan orang-orang mereka."

"nah itu adalah tugas kamu, sebagai orang yang terpelajar dan berpendidikan. Ngambil kuliyah apa disana?" lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.

"saya kuliyah Ushuluddin."

"mempelajari bidang apa saja itu?"

"hmm... Banyak, Tafsir Qur'an, Hadits dan lain-lain."

"iya, tolong kamu catat ini penting. Kamu harus bisa merubah orang-orang yang bodoh, harus bisa mengajak orang-orang yang tidak tahu budi pekerti, kita seharusnya malu, kita negara dengan jumlah umat muslim terbanyak di dunia, tetapi akhlak kita sama sekali tidak mencerminkan akhlak islam. Harus kamu catat itu."
perkataannya membuat saya menutup buku, meluruskan posisi duduk dan mengangguk bingung, sebab saya bingung harus mencatat dari mana, karena saya tahu perbincangan ini pasti lumayan panjang, dan tidak sedikit yang akan diungkapkan oleh Bapak tersebut.

"baik pak, nanti saya akan catat. Sekarang saya ingin mendengarkan semuanya dulu." jawab saya meyakinkan.

"oh ya, ngomong-ngomong tahun berapa Bapak pernah ke Mesir dan negara-negar Timur Tengah lainnya?" saya bergilir bertanya.

"sekitar tahun 90-an. Masih zamannya Pak Harto. kamu masih ingat dengan tragedi 98? saat itu ekonomi Indonesia sedang tidak baik, usaha saya pun akhirnya terancam bangkrut. Sehingga setelah kerusuhan besar-besaran itu saya harus memulai usaha dari kecil lagi." ceritanya.

"ya saya masih ingat tentang tragedi itu, waktu Soeharto turun jabatan dan diganti dengan Pak B.J. Habibie. waktu itu saya masih sekolah SD."

"nah itu, kamu harus merubahnya jangan di biasakan memanggil orang yang lebih tua dengan menyebut namanya saja, ini juga bagian dari akhlak." sahutnya diujung perkataan saya.

"maksudnya pak?" tanya saya kebingungan.

"tadi kamu menyebut Pak Soeharto tidak ada 'bapak'nya."

"masa sih pak? perasaan saya nyebut kok." saya dibuatnya penasaran, karena perkataan yang saya ucapkan beberapa detik lalu sudah tidak saya ingat, karena ragu setelah dikatakan seperti itu.

"begini, walaupun Pak Soeharto dimata rakyat Indonesia adalah orang yang dipandang buruk. Tetapi menghormatinya adalah kewajiban, karena walau bagaimanapun dia adalah orangtua, orang yang lebih tua dari kita. apalagi dia seorang yang pernah memimpin negara. Ini masalah kecil yang belum hilang dari anak muda se usia kamu. Menyebut orangtua dengan namanya saja." saya terdiam, rasanya malu bukan main.

"baik kalo memang saya tadi berkata tanpa ada Pak-nya saya minta maaf pak. hehe." ucap saya membayar kesalahan.

"berarti Bapak seorang Bisnisman besar donk? buktinya sudah kerjasama dengan luar negeri? jangan-jangan Bapak waktu itu juga pernah menjabat di pemerintahan?"
Bapak itu terdiam, lalu mengangkat suaranya.

"tidak juga, ya pengalaman-pengalaman tentang itu ada juga lah." jawabnya dengan sederhana yang dapat simpulkan dengan kerendahan hatinya.

Saya melinguk ke salah seorang disampingnya. Istri bapak tersebut terlihat diam saja sejak kami berbual-bual, rasanya dia menyimak perbincangan kami walaupun suara bapak itu tidak terlalu kuat. Sesekali ia hanya menggerakan posisi tangannya dan terakhir ketika kami sedikit saling diam istrinya memberikan passport dan tiket pesawat kepada suaminya, ada bahasa gerak yang saya fahami. Istrinya memerintahkan agar berkas-berkas penting itu disimpan didalam koper yang sejak tadi Bapak pegang. 

"setelah lulus kuliyah kamu mau ngapain?" kembali bapak tersebut memulai perbincangan di fase kedua.

Saya terdiam sejenak, berfikir apa yang seharusnya saya jawab. Masadepan adalah sesuatu yang ghaib. Manusia hanya bisa merencanakan, tetapi akhirnya semua ada dikehendak Allah SWT yang Maha Kuasa. Untuk mengurangi rasa takzim saya, saya pun menjawabnya walaupun saya belum pasti apakah rencana itu akan saya pilih.

"saya mungkin lanjut kuliyah di Malaysia, disamping itu sambil berbisnis untuk masadepan." jawab saya dengan hati yang sedikit melamun.

"kamu inginnya bisnis apa?" tanya Bapak tersebut yang fokus dibagian kalimat 'bisnis'.

Saya pun, kembali termenung, karena ingin memberi jawaban yang benar-benar dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum terpecahkan oleh saya.

"mungkin..., bisnis membuka Restaurant atau Warung Makan?" jawab saya, dengan harapan mendapat jawaban darinya.

"alasannya?" kembali beliau mengutak-atik tujuan-tujuan hidup saya.

"karena manusia hidup butuh makan? ini sesuatu yang pasti." jawaban saya berirama bertanya, apakah jawaban ini sesuai dengan pilihan yang akan saya pilih atau tidak sesuai. kembali bapak itu agar bisa meluruskannya jika jawaban saya kurang tepat.

"modalnya?" lagi-lagi menyindir saya, yang memang dari dulu ingin sekali mencoba wirausaha mandiri tetapi belum memliki modal yang pasti.

"eng... gak adda?" jawab saya lagi-lagi dengan irama bertanya.

"begini, Restaurant itu kan bisnis yang besar, modalnya pun besar. Kalau kamu ingin membuka usaha Restaurant, coba dari sesuatu yang kecil dulu. Misalkan kamu berjualan gorengan atau kue-kue ke teman-teman kamu. Tidak usah minder atau malu, nanti dari situ kamu bisa melihat perkembangan kamu. Coba semuanya dari yang kecil dulu, nanti kalau sudah kamu coba terus bertahap ketingkat yang lebih tinggi." jelasnya mencerahkan.

Saya mengangguk-ngangguk, sambil mencatat semua ucapannya didalam otak. 

"saya dulu pun dari usaha-usaha yang kecil, akhirnya terus bertahap, meningkat, dan sampai sekarang, alhamdulillah." ujarnnya.

Saya malah menjadi penasaran, tentang tujuannya mengunjungi Malaysia. saya memulai bertanya yang lain.

"bapak ke Malaysia tinggal dimana?" siapa tahu dekat dengan saya tinggalnya ucap saya dalam hati.

"saya tinggal di Kuala Lumpur."

"oh..., dalam rangka apa pak, liburan? atau ada anak kuliyah disana? saya menjadi penasaran.

kepalanya sedikit mendangak, lalu menoleh ke saya. dan menjawab.

"dalam rangka menjemput uang." jawabnya.

"maksudnya?" saya masih belum faham dengan jawaban singkatnya. Nampak dari penampilannya terlihat biasa saja seperti penumpang-penumpang lainnya.

"ya..., menjemput uang" jawabnya yang kedua kali. 

Saya dibuatnya bertanya-tanya sampai detik ini. Karena orang-orang biasanya pergi buang-buang uang, tetapi berbeda dengan sepasang suami istri yang sudah dilanjut usia ini. 'menjemput uang'.

Setelah perbincangan itu, pintu memasuki pesawat mulai dibuka, dibagi beberapa bagian oleh sang petugas maskapai penerbangan agar menjadi teratur. Bapak dan Ibu itu berdiri sambil mempersilakan saya untuk bersama-sama masuk. Kami pun melangkahkan kaki, namun saya sedikit lebih cepat ketika pengecekan tiket dan passport, saya sudah masuk kedalam pesawat. dan mencari-cari tempat. akhirnya saya duduk dan menanti berharap suami-istri itu duduk disamping saya agar saya dapat mengenal lebih jauh dan lebih dekat tentang sosoknya. beliau datang, namun ternyata beliau melewati sayadan mendapat tempat duduk agak belakang tepatnya disebelah kiri, sedangkan saya duduk dibagian kanan. hanya terseling dua tempat duduk. tetapi tiba-tiba seorang lelaki bertubuh besar datang kepada saya, dan menunjukkan tiketnya, saya yang sudah yakin duduk disini terpaksa harus pindah, karena saya tidak begitu jelas membedakan antara angka 3 dengan angka 9, setelah saya teliti ternyata angka 3 tersebut dikepalanya hampir menyatu dengan lehernya dan menyerupai angka 9. Memalukan! hahaha...

Akhirnya saya mencari lagi tempat tersebut, saya mendapat tempat tepat ditengah sayap pesawat. tepatnya di pintu darurat. Ribuan bahaya, kapal meledak, kapal oleng, kapal jatuh, kapal tabrakan ada berputar-putar difikiran saya, setelah seorang pramugari menghampiri dan mengatakan saya harus bertanggung jawab untuk pintu darurat ini, jika terjadi apa-apa langsung tarik saja dan dorong. gila!

setelah itu kami tidak berjumpa lagi, ada kesalahan terbesar yang saya lewatkan, saya lupa bertanya siapa-nama Bapak tersebut, atau bahkan kalau bisa saya meminta kartu namanya agar komunikasi saya dapat berlanjut, an mengambil hikmah disetiap pengalamannya. Siapa tahu, ada rezeki yang tidak disangka-sangka! hehehe. ngarep.com







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Often Read:

Breaking News

Kata Mereka:

"akulah pemilik masa depanku, tak perduli apa kata orang lain, yg terpenting adalah; Aku adalah Aku, bukan dirimu. Akulah yang menentukan kapan kesuksesan dapat kuraih, karna aku percaya janji Tuhan yang tak mungkin untuk di ingkari."

Percayalah dan yakinlah semuanya dapat kau raih dengan kesungguhan hati dan kebulatan tekad sekeras baja. Kekuranganku adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidupku.

(Sahabat saya, Nurul Atiq)