22 Januari 2013

Supir Taksi Bagian Satu

 oleh: Muhammad Syahrul Fakhri

 

Hal yang paling saya suka ketika naik taksi di indonesia, ialah mengajak bicara sang supir. Semalam ketika saya naik taksi dari Mall Metropolis Tangerang menuju rumah, saya dikagumkan dengan sang supir. Ketika membuka pintu dan masuk kedalam mobil, saya di sambut dengan suasana yang agak berbeda. Suara murottal Syekh al-Ghamidi sedang berputar di audionya. Saya teringat suasana di Mesir, biasanya orang-orang mesir yang melakukan hal ini; membuka murottal didalam bus, taksi, angkot bahkan sepeda motor Hahaha.

Tiba-tiba supir taksi itu terkejut, dia langsung bertanya: "maaf anda muslim? Jika bukan muslim saya akan matikan."


Spontan saya pun menjawab, "tenang saja pak, alhamdulillah saya muslim dan suka mendengar murottal al-qur'an."

Supir taksi itu pun akhirnya tidak jadi mematikannya, tetapi justru menambah dua volume ke atas.

"saya sedang muroja'ah saja, habisnya kalau tidak pernah mendengar atau membaca, hafalan kita biasanya suka lupa dan hilang begitu saja." Kurang lebih seperti itu.


"ya betul pak." Jawab saya singkat.


Sekilas saya bertanya kepada supir taksi yang sedang khusyuk menatap arah jalan didepannya. "bapak hafal 30 juz?" 


"oh tidak..." Sambil tersenyum sipu.


"yang hafal 30 juz alhamdulillah kakak saya dua orang." lanjutnya.
"Semuanya alumni pesantren pak?"


"oh tidak, Justru dia yang punya pesantren."


"oh ya...?" Jawab saya lebbeh (berlebihan).


"dimana pak? Pesantren apa?"


"pesantren tahfiz qur'an di bantul jogjakarta."


"alhamdulillah kakek saya juga seorang hafizh." Lanjut supir taksi.


"Wah jangan-jangan beliau kiyai yah, kakeknya Bapak?"


"Oh gaaak..." Sambil tersipu lagi.

Saya pun mulai penasaran, seperti ada yang disembunyiin nih si bapak. Lalu saya kembali bertanya,


"sistem menghafal bapak seperti apa? Soalnya saya kalau menghafal qur'an selalu menjadi kebiasaan, ngafalnya cepat, lupanya juga cepat."

"one day, one ayat! Itu cara saya menghafal. Dan itu juga yang saya ajarkan kepada kedua anak saya. Yang paling kecil umur 4 tahun alhamdulillah sudah bisa menghafal surah2 pendek. Dan anak yang pertama dah hafal lima juz dalam 10 tahun. One day, one ayat! Bahkan setiap anak saya meminta sesuatu, seperti bakso atau yang lainnya, saya haruskan untuk mengahafal satu ayat terlebih dahulu. Yah, walopun hafal gak dihafal, pasti saya berikan. Hehehe. Tapi ini dilakukan agar anak-anak termotivasi dan semangat. Dan walopun gak menghafal juga sebenarnya pasti saya akan berikan."

Perjalanan pun sudah sampai pada pertengahan jalan.

"Saya dulu, sebenarnya dah pernah hafal 8 juz, tapi karena saya terlalu hubbuddunya. Saya akhirnya lupa semuanya. Apalagi pak, (memanggil saya dengan sebutan "Bapak") saya dulu sampe pernah jadi sales minuman arak, ngafal surah al-muzzammil aja sampe 2 minggu tidak selesai-selesai." Sambung cerita pak supir taksi.

Saya semakin seru dibuatnya, supir taksi yang penuh senyum dan bicaranya seperti orang ceramah itu sudah memberikan ilmu yang tidak disengaja pada malam ini. Ya, dimalam selepas menonton film di bioskop Metropolis.

Sejurus kemudian, sebelum saya berpisah dengan supir taksi ini. Saya meminta nasihatnya.


"gimana pak biar hafalan saya kuat?"

"Kakek saya pernah bicara kepada saya, 


"mengahafal al-qur'an itu mudah! Mudah sekali. Atau bahasa sekarang, gampang bangeeet...! Yang susah itu menjaganya! Memeliharanya! Kalau mau hafalan kita kuat. Pertama! Jaga apa yang masuk dan keluar dari mulut kita."

"Keluar maksudnya?" Potong saya, yang hanya mengerti pada kalimat masuknya saja.


"Ya, apa yang keluar dari mulut kita. Kalo kita suka berbohong, suka bicara kasar atau jorok. Kira-kira hafalan itu mudah atau susah masuk kedalam diri kita? Kedua! Apa yang kita lihat sama mata kita, kalo melihat yang sebenarnya tidak boleh dilihat, kira-kira hafalan yang sedang kita hafal susah tidak masuk kedalam diri kita? Ketiga, mendengar! Kira-kira kalo kita suka mendengar yang seharusnya tidak kita dengar, kira-kira hafalan mudah tidak masuk kedalam diri kita? Saya bukan bermaksud riya' tetapi ini hanya berbagi cerita dan pengalaman saja."


 Singkat cerita, pertemuan berakhir setelah sang supir berhasil menghantar kami sampai rumah. Yang ternyata saya tahu, bapak ini adalah orang jawa yang sudah tinggal diparung panjang selama 20 tahun terakhir. Orangnya rendah hati, ceria, penuh senyum dan satu lagi yang paling membuat saya kagum, cara mendidik anaknya untuk bisa mengahafal al-qur'an di usia dini yang dengan menggunakan metode "one day, one ayat" atau metode, setiap meminta sesuatu diharuskan menghafal satu ayat! Untuk memotivasinya. Luar biasa, sangat super sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Often Read:

Breaking News

Kata Mereka:

"akulah pemilik masa depanku, tak perduli apa kata orang lain, yg terpenting adalah; Aku adalah Aku, bukan dirimu. Akulah yang menentukan kapan kesuksesan dapat kuraih, karna aku percaya janji Tuhan yang tak mungkin untuk di ingkari."

Percayalah dan yakinlah semuanya dapat kau raih dengan kesungguhan hati dan kebulatan tekad sekeras baja. Kekuranganku adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidupku.

(Sahabat saya, Nurul Atiq)